Monday, 14 December 2015

Apakah Lilitan Tali Pusat Itu Berbahaya?

December 14, 2015 0 Comments
Tiba-tiba saya tertarik untuk membuat tulisan tentang lilitan tali pusat, setelah ada teman saya yang memposting di salah satu media sosial tetang kelegaan bayinya yang tidak terlilit tali pusat. Dari ungkapan kata-kata itu menyiratkan kepada yang membaca khususnya saya jika teman saya sangat khawatir jika bayinya terlilit tali pusat.

Lain halnya dengan cerita ibu yang saya dampigi persalinannya. Ketika usia kehamilan 8 bulan saat USG dokter mengatakan bahwa bayinya terlilit tali pusat satu kali longgar. Dokter mengatakan bahwa tidak apa-apa tali pusat melilit leher bayi, tetap bisa melahirkan normal. Walaupun saat itu dokter sudah megatakan tidak ada masalah dengan terlilit tali pusat, tetapi saja hal itu membuatnya menjadi sangat khawatir.

Dua cerita itu mewakilkan perasaan ibu-ibu hamil yang khawatir tentang lilitan tali pusat. Sepertinya hal ini menjadi “momok” tersendiri bagi mereka. Kalau diingat-ingat jaman dulu sama sekali tidak menghawatirkan adanya lilitan tali pusat. Selalu bangga atau senang karena jika bayinya terlilit tali pusat, dianggap akan “wangun” atau pantas memakai baju apa saja. Ini mitos sebenernya, tapi mitos yang menenangkan menurut saya karena ibu hamil tidak akan jadi stress memikirkan tali pusat yang melilit bayinya.

Mari kita mengenal tali pusat terlebih dahulu. Tali pusat menghubungkan plasenta dengan bayi. Kalau dilihat warnanya putih ke abu-abuan, di dalamnya terdapat whorthon jelly yang melindungi pembuluh darah di dalamnya. Di dalamnya terdapat satu vena (pembuluh darah besar yang berwarna biru, kaya oksigen) dan dua arteri (pembuluh darah kecil, berwarna mera, yang miskin oksigen). 1% akan didapatkan kasus hanya terdapat 1 arteri, dan 15% dari kasus itu berhubungan dengan kelainan congenital.

25% bayi dengan kondisi terlilit tali pusat (Ina May Gaskin. Spiritual Midwifery). Dari sumber studi lain menyebutkan bahwa 10-37% akan mengalami lilitan tali pusat dari semua bayi yang ada entah di usia berapa pun dan kebanyakan diantara mereka adalah laki-laki (Adinma, 1990; Miser, 1992; Rhoades et al, 1999) . Karena laki-laki kebanyak mempunyai tali pusat yang panjang (Rogers et al, 2003). Adanya lilitan tali pusat ini sebenarnya tidak membahayakan bayi, mereka masih mendapatkan oksigen dari tali pusat.t

Tali pusat akan  melilit bayi di daerah leher, kepala, badan atau di bisa di seluruh bagian tubuh bayi. Sebagian besar akan melilit di leher. Tali pusat yang melilit bisa satu kali, dua kali, atau beberapa kali, namun umumnya hanya satu kali.

Persalinan dan Kelahiran 
Proses persalinan dengan lilitan tali pusat adalah aman. Tidak ada indikasi untuk dilakukannya SC dengan kasus ini (RCOG.2009). Saat proses persalinan, bayi, tali pusat dan fudus (bagian paling atas rahim) akan bekerja sama untuk turunnya bayi. Kadang ketika persalinan dinyatakan gagal ( tidak ada progress) atau diakhiri dengan SC, dan saat SC diketahui bahwa bayinya ada lilitan tali pusat, sering kali ini akan menjadi alasan mengapa bayinya tidak turun. Jika diingat,bayi butuh waktu untuk turunnya kepala dan berprogress bersalin. Alangkah lebih bijaknya jika tidak ada alasan untuk mengakhiri persalinannya dengan SC adalah menunggu bayi itu turun dengan sendirinya.
Tali pusat yang longgar tidak akan menyebabkan masalah (Reed et al. 2009). Bayi-bayi tetap akan mendapatkan oksigen seiring dengan darah yang mengalir melalui pmbuluh darah yang ada di tali pusat. Apabila pernah mendengar bayi tercekik saat proses keluarnya kepala bayi, ini dikarenakan bayi biasanya terlilit beberapa kali. Itu bukan berarti bayinya tidak mendapat oksigen sama sekali. Oksigennya masih mengalir di pembuluh darah, namun dalm jumlah sedikit karena terkompresi vagina, tapi bukan tidak ada sama sekali. Kondisi ini menyebabkan bayi akan mengalami shorther hipoksia (kekurangan oksigen dalam jangka waktu pendek),tetapi ini akan segera pulih jika tidak langsung di potong tali pusatnya (Reed et al.2009) saat transformasi nafas dan proses belajar nafas, bayi tetap mendapat aliran oksigen dari tali pusat. 

Bagaimana jika Terlilit?
Bagaimana jika bayi kita terlilit tali pusat? Tidak perlu khawatir dengan kondisi ini, karena sekali lagi ini adalah aman. Coba saja mengkomunikasikan dengan bayi, ajak bayi bicara dengan harapan bayi mau membebaskan lilitannya. Ini pula yang dilakukan ibu yang saya dampingi tadi, dengan mengkomunikasikan ke bayinya dan bayinya berhasil bebas tadi lilitan tali pusat menjelang persalinannya.

Sumber
Gaskin, Ina May. Spiritual Midwifery Revised Edition.Tenness: 1980
Reed, R et al.Nuchal cord : Sharing the Evidence with Parents in British Journal of Midwifery.2009
http://midwifethinking.com/2010/07/29/nuchal-cords/by Rachel Reed




Sunday, 13 December 2015

Diastasis Recti

December 13, 2015 1 Comments
Saat hamil, tubuh perempuan akan mengalami perubahan bentuk. Perubahan ini hampir terjadi di setiap bagian tubuh. Salah satunya adalah pada bagian perut.

Perubahan yang ada pada bagian perut ini bisa dilihat dari permukaan kulit. Permukaan kulit akan Nampak seperti bergaris coklat sepanjang linea alba, ini dikenal dengan adanya linea nigra. Sedang yang tampak seperti garis-garis tidak beraturan, kadang bisa berwarna pink atau  putih bahkan bisa berwarna coklat, ini di sebut striae gravidarum. Semuanya dipengaruhi oleh adanya perubahan hormon pada saat kehamilan.

Satu lagi hal yang perlu diperhatikan  adalah terjadinya Diastasis Recti. Diastasis Recti merupakan pemisahan otot Rectus Abdominis ( atau otot six pack) di daerah Linea Alba. Dikatakan Diastasis Recti jika  pemisahan otot itu dalamnya lebih dari 2,5 cm. Seiring besarnya kehamilan,  otot Rectus Abdominis dapat memisah satu sama lain. Hal ini terjadi karena semakin besarnya perut dan besarnya usia kehamilan. 

Hormon relaxin yang bertanggung jawab melumasi dan melonggarkan jaringan tissue di panggul serta membantu bayi untuk masuk ke dalam panggul. Selain itu juga melumasi dan melonggarkan jaringan tissue di otot perut sehingga otot-otot itu bisa meregang  dan melampaui batasan yang seharusnya.

Diastasis recti banyak terjadi pada : ibu yang usianya lebih dari 35 th, kehamilan kembar, bayi-bayi besar dan kehamilan berulang.

Diastasis recti dapat mengurangi kekuatan fugsional dari dinding perut dan dapat memperburuk nyeri punggung bawah dan ketidakstabilan panggul.



 Cara mengetahui kedalaman Diastasis Recti
* Berbaring telentang dengan lutut ditekuk, dan telapak kaki menapak di lantai.
* Tempatkan satu tangan di belakang kepala, dan tangan lain di perut, dengan ujung jari di sejajar dengan tubuh di sekitar pusar (linea alba).
* Dengan dinding perut yang rileks, tekan ujung jari dengan lembut ke dalam perut.
 *Angkat kepala sampai  tulang rusuk akan terlihat mendekati panggul.
* Lakukan di daerah di atas atau di bawah pusat untuk memastikan daerah yang lain.
 

Untuk menghindari Diastasis Recti sebaiknya selama hamil jangan banyak melakukan postur-postur backbend saat senam atau yoga, karena semakin banyak melakukan backbend kemungkinan mengalami Diastasis Recti  menjadi lebih besar peluangnya.

Setelah melahirkan sangat dianjurkan menggunakan bengkung atau stagen. Dengan melilitkan atau memakai stagen sangat membantu otot abdomen menutup atau tertarik kedalam supaya Diastasis Recti mengecil. 

Sumber
Modul Prenatal yoga ttc
www.befitmom.com
www.mayoclinic.org