Showing posts with label persalinan. Show all posts
Showing posts with label persalinan. Show all posts

Monday, 2 December 2019

Yang Kamu Sebaiknya Tau Tentang Periksa Dalam

December 02, 2019 0 Comments
Pemeriksaan dalam? apa sih yang terlintas di dalam benak pikiran kita ketika mendengar pemeriksaan dalam? Ya, pemeriksaan dalam identik dengan tindakan saat proses persalinan. 

Periksa Dalam atau Vaginal Toucher (VT) adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan memasukkan jari ke dalam vagina. Bidan biasanya akan melakukan pemeriksaan dalam pada saat ibu sudah memasuki proses persalinan. Tujuan dari dilakukan pemeriksaan ini sebenernya adalah untuk mengetahui kemajuan persalinan (pembukaan, penipisan, penurunan kepala / bagian terendah janin), untuk mengetahui juga keadaan ketuban serta menilai adanya komplikasi atau penyulit. 

Saat bidan melakukan pemeriksaan dalam ada beberapa hal yang biasanya mereka akan lihat saat tangan bidan ada di dalam vagina. Beberapa hal yang bidan akan nilai saat pemeriksaan dalam:
1. Vulva dan vagina, biasanya dilihat adakah infeksi atau adanya penyakit menular
2. Untuk menilai keadaan dan konsistensi portio, ketebalan dan penipisan mulut rahim
3. Menilai sejauh mana  mulut rahim (serviks) mengalami pembukaan
4. Menilai selaput ketuban apakah masih untuk atau sudah pecah
5. Melihat presentasi ( apakah ubun-ubun besar atau ubun-ubun keci atau bagian yang lain) dan posisi janin ( misal kepala, akan dilihat ubun-ubun baik ubun besar atau kecil mengarah di jam berapa)
6. Mengetahui seberapa turunnya bagian terendah janin, biasanya mereka akan melihat dari bidang khayal (hodge 1-4)
7. Adanya penyusupan kepala (molase)

Namun, pada beberapa kasus pemeriksaan dalam tidak boleh dilakukan. Contoh kasus yang tidak boleh dilakukan pemeriksaan dalam adalah plasenta previa dan terjadi perdarahan. Pada kasus ketuban pecah dini dan persalinan prematur,  biasanya juga tidak akan sering untuk dilakukan pemeriksaan dalam.

Seberapa jam sekali pemeriksaan dalam dilakukan??
Tenaga kkesehatan akan melakukan pemeriksaan dalam biasanya per 4/6 jam sekali atau jika terjadi indikasi misalnya ketuban pecah atau adanya dorongan untuk mengejan.
   

Monday, 28 October 2019

Faktor Yang Mempengaruhi Persalinan - Passanger -

October 28, 2019 0 Comments

Passenger berhubungan dengan penumpang atau bayi yang ada di dalam rahim. Passenger ini dipengaruhi oleh ukuran bayi kehamilan ke berapa / anak ke berapa) dan posisi bayi / (presentasi dan posisi).
Seiring usia kehamilan bertambah, bayi akan semakin masuk ke dalam panggul dan kepalanya semakin mengunci dan disebut dengan engagement a.k.a dropping atau lightening. Beberapa kasus bayi akan masuk ke dalam panggul  mendekati proses kontraksi atau saat proses persalinan itu terjadi.
Ada 8 variasi posisi kepala bayi di dalam rahim, seperti gambar di bawah, namun hanya akan dibahas posisi bayi yang memudahkan dan membuat proses persalinan menjadi lama ( membutuhkan waktu lebih lama

a.      Posisi kepala OA
               Posisi kepala OA (occiput anterior/ubun-ubun kecil, left occiput anterior (LOA), right occiput anterior (ROA) dan left occiput transfer (LOT) merupakan posisi ideal atau posisi optimal, bayi dengan posisi anterior akan sangat mudah untuk mengubah menjadi posisi vertex (dimana dagu menempel ke dada). Saat posisi vertex (puncak kepala), diameter kepala bayi menjadi diameter paling kecil sehingga akan memudahkan kepala bayi untuk turun dan biasanya proses persalinannya menjadi lebih mudah.

b.     Posisi kepala OP
Posisi kepala right occiput posterior, left occiput posterior, right occiput transverse dan occiput posterior merupakan posisi yang tidak ideal pada bayi untuk masuk ke dalam panggul. Posisi ini membuat diameter kepala bayi lebih besar. Ibarat kata kepala bayi akan mentok dengan ukuran panggul ibu, sehingga saat bayi berupaya melakukan rotasi internal, ibu akan cenderung nyeri di daerah sakrum, sakrum ibu akan terlihat menonjol jika diraba.
 Ada beberapa cara yang dipakai untuk memposisikan kepala bayi, missal dengan rebozo, forward leaning inversion dan cat cow pose.

Sunday, 28 July 2019

Faktor yang Mempengaruhi Persalinan - Power

July 28, 2019 0 Comments
Power, jika diartikan ke dalam Bahasa Indonesia adalah Tenaga. Tenaga ini akan mempengaruhi kontraksi dan juga proses mendorong bayi atau mengejan. Maka, penting sekali untuk menjaga asupan makan ibu selama proses persalinan untuk menjaga tenaga. 

1. Kontraksi
Kuat atau lemahnya kontraksi dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: penerimaan tubuh terhadap kontraksi, nutrisi, cairan serta istirahat selama proses persalinan. Jadi, misal ternyata kontraksi kekuatannya menjadi melemah, yang bisa dilakukan ibu dan pasangan adalah melihat kembali pada faktor yang mempengaruhi di atas.

Braxton Hicks / kontraksi permulaan
Tahun 1872, John Braxton Hicks, M.D., dokter berkebangsaan Inggris mendeskripsikan pertama kali tentang kontraksi ini. Banyak orang menyebut bahwa Braxton hicks merupakan kontraksi palsu. Kontraksi ini bisa dirasakan atau dideskripsikan seperti ini: intensitas kontraksinya irregular (tidak tentu), tidak berfrekuensi, tidak dapat diprediksi datangnya, tidak beritme atau pola, lebih dirasakan tidak nyaman intensitas atau frekuensinya tidak bertambah. Jika bisa mengambil pandangan positif dari Braxton ini, dapat dikatakan bahwa kontraksi yang dirasakan oleh ibu seperti kontraksi latihan atau kontraksi permulaan sebelum merasakan kontraksi yang jauh lebih intens dan kuat.

His / kontraksi intens

His dapat diistilahkan sebagai kontraksi yang intens atau kontraksi persalinan sebenarnya. Kontraksi yang berprogres melahirkan ditandai dengan kontaksinya yang semakin teratur, semakin sering, dapat diprediksi datangnya karena sudah berpola atau beritme (misal per dua atau tiga menit sekali), dan intensitas atau frekuansinya akan bertambah. Ibu akan cenderung merasakan  daerah fundus (bagian atas rahim) akan terasa jauh lebih keras saat kontraksi persalinan, karena serabut-serabut otot bagian atas lebih tebal jika disbanding daerah bawah.
Indikator kekuatan sebuah his adalah ringan, sedang dan kuat, bukan sakit atau tidak sakit. Sakit atau tidak sakit merupakan sebuah respon terhadap kontraksi yang lebih kuat. Hal ini berdasarkan dari penjelasan di dalam partograf (alat untuk mengetahui sebuah kemajuan persalinan). Untuk bersalin per vagina, ibu membutuhkan kontraksi yang semakin lama semakin kuat untuk bisa segera bertemu dengan bayinya. Semakin kuat kontraksi yang ibu rasakan, pembukaan akan semakin mengikuti.

2. Mendorong atau mengejan
Mendorong atau mengejan merupakan sesuatu hal yang sangat instingtif. Untuk bisa mendapatkan insting ini, ada baiknya dilatih dengan melatih nafas. Jika saat mendorong bayi, ibu sudah sampai pada saat insting, maka proses mendorong bayi akan lebih efektif.
Mengejan juga membutuhkan tenaga dan energy, itu kenapa sebaiknya ketika proses persalinan, ibu sebaiknya berusaha untuk bisa memenuhi asupan makan dan minum dengan baik.



Monday, 29 April 2019

Kapan Sebaiknya Berangkat ke Fasilitas Kesehatan???

April 29, 2019 2 Comments
Kapan Sebaiknya Berangkat ke fasilitas kesehatan? Ini merupakan salah satu pertanyaan yang kerap ibu hamil tanyakan kepada provider kesehatan. Tidak hanya satu atau dua ibu hamil yang kami temui tetapi beberapa dan cenderung banyak

Betapa pentingnya mencari edukasi yang selama kehamilan untuk menjalani kehamilan dan mempersiapkan persalinan dengan penuh kesadaran. Jika ibu memberdayakan diri dari segi edukasi, salah satu manfaat yang bisa ibu rasakan adalah mengetahui kapan waktu yang tepat untuk ke rumah sakit

Kenapa Penting untuk tau kapan ke Fasilitas Kesehatan?
persalinan merupakan salah satu peristiwa emosional yang ibu rasakan, setiap proses dan progres persalinan akan diingat oleh ibu seumur hidup. Jika kita datang terlalu awal, maka bisa jadi hal itu akan mempengaruhi proses emosional ibu saat persalinan. Bisa jadi ketika di fasilitas kesehatan proses persalinan ibu akan lebih lama dibanding ibu yang lain, maka kemungkinan ibu akan merasakan cemas jauh lebih besar, ibu akan cenderung panik sehingga bisa jadi kepanikan dan kecemasan ibu akan mempengaruhi proses persalinan.

Jadi kapan sebaiknya berangkat ke fasilitas kesehatan??
Kembali pada pokok yang ingin kami bahas, kapan sebaiknya ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan? jika ini adalah kehamilan pertama maka disarankan untuk ke fasilitas kesehatan jika kontraksi yang dirasakan dalam 10 menit sudah ada 3 kali kontraksi dengan durasi satu kontraksi kurang dari 1 menit.

jika ini adalah anak ke dua dan seterusnya maka akan lebih baik berangkat lebih awal, jika kontraksi yang dirasakan sudah per lima menit sekali.

Sebagai catatan yang dilakukan oleh ibu saat menikmati proses persalinan di rumah adalah dengan mengobservasi gerakan janin. Mnghitung gerakan janin yang ibu lakukan merupakan salah satu hal yang paling mudah untuk mengetahui kesejahteraan bayi di dalam rahim.

Thursday, 11 April 2019

Jika Ketuban Pecah Terjadi. . .

April 11, 2019 0 Comments
Air Ketuban merupakan cairan di dalam rahim yang berfungsi untuk melindungi bayi dari goncangan, benturan atau gangguan lainnya dari luar. Air ketuban ini merupakan pendukung vital kehidupan bayi di dalam rahim.

Ada beberapa hal yang dapat mengakibatkan ketuban menjadi pecah atau rembes, salah satunya adalah karena bakteri di dalam vagina. Ketuban pecah bisa ditandai dengan keluarnya cairan dari dalam vagina. Cairanyang mengalir dari dalam vagina ini bisa dicheck untuk memastikan apakah ketuban atau bukan dengan menggunakan kertas lakmus.

Ada dua macam kertas lakmus, berwarna pink dan bitu. Kertas warna pink, jika hasilnya positive akan ditandai dengan berubah warna menjadi ungu atau biru keunguan, jika kertas yang dipakai yang berwarna biru, positive ketuban akan ditandai dengan kertas tidak berubah warna atau tetap berwarna biru. Jika hasilnya negative, bukan ketuban maka bisa jadi itu adalah cairan vagina yang bersifat encer, sehingga konsistensinya seperti ketub

Ketuban Pecah itu Bagiamana ya?
Kebanyakan ibu hamil yang ditemui mengatakan bahwa takut, cemas, khawatir jika ketuban pecah. Ketuban pecah memang, salah satu yang dikhawatirkan oleh ibu hamil selain induksi persalinan. Semua ibu pasti tidak menginginkan hal ini terjadi, namun jika ketuban memang pecah, hal ini tidak dapat dihindarkan. maksudnya jika ketuban pecah, maka kemungkinan selaput ketuban tidak akan menutup kembali kecuali jika pecah pada usia kehamilan yang relatif muda.

Selaput ketuban yang pecah atau merembes, maka cairan yang ada di dalamnya akan terus menerus keluar. ibarat balon yang terisi air, jika balonnya pecah maka air yang ada di dalamnya akan terus menerus keluar. Merembes dapat ditandai dengan keluarnya ketuban sedikit-sedikit dan pada saat ibu bergerak, sedangkan pecah ditandai dengan keluar banyak yang terus-menerus. 


Apa yang sebaiknya dilakukan??

Biasanya jika ketuban pecah dan mengalir banyak maka ibu diminta bedrest supaya air ketuban semakin tidak keluar banyak dan habis di dalam. Ketika selaput ketuban pecah hal dasar yang dilakukan ibu adalah tetap tenang, ketika tenang ibu akan lebih tau apa yang sebaiknya dilakukan. Namun, jika ibu panik maka bisa jadi ibu akan menjadi lebih gugup

Aman tidak ya Jika Ketuban Pecah?
Sebenernya air ketuban mengandung banyak oksitosin, oksitosin inilah diperlukan untuk menstimulus hadirnya kontraksi. Persalinan Vagina membutuhkan kontraksi yang semakin lama semakin kuat untuk mendorong mulut rahim membuka dan bayi keluar dari vagina. Jika ibu tenang, pecahnya ketuban ini akan membantu ibu mendapatkan oksitosin yang berlimpah, sehingga ibu akan merasakan kontraksi dengan sealami mungkin.

Namun jika ibu takut, cemas dan khawatir maka hormon Adrenaline yang akan telepaskan oleh otak. Hormon Adrenalin ini akan memblok terlepasnya hormon oksitosin yang menstimulus kontraksi. Itu kenapa ketika ibu takut, maka kontraksi tidak akan ibu rasakan dan dapat terstimulus dari pecahnya ketuban ini. 

Jadi penting sekali untuk ibu bisa melakukan manajemen emosi ketika ketuban sudah pecah. Ibu membutuhkan ketenangan emosional agar pecahnya ketuban dapat menstimulus hadirnya kontraksi persalinan.

  

Monday, 18 December 2017

Kala - Kala Persalinan

December 18, 2017 1 Comments
Persalinan di bagi beberapa kala/stase:
1. Kala satu
   Kala Satu merupakan periode dimana uterus (rahim) berkontraksi untuk       menipiskan dan membuka serviks (leher rahim)
   a. Fase laten
        Fase laten dimulai dari pembukaan 1-3. Biasanya kontraksi masih            ringan dan durasinya belum lama. Proses pembukaan 1-3 ini tidak            bisa diprediksi seberapa lamanya. 
     b.  Fase aktif
        Fase aktif dimulai dari pembukaan 4 sampai pembukaan 10.                  Kontraksinya sudah mulai intens dan dibagian fundus (perut atas)         lama-lama akan terasa keras seiring dengan pembukaan bertambah.
     c.  Transisi
        Di dalam fase aktif, terdapat salah satu periode atau fase yang            penting yaitu transisi. Periode ini merupakan periode terpendek,          terjadi perubahan jenis kontraksi dari kontraksi untuk membuka            serviks menjadi kontraksi ekspulsif (mendorong bayi) dan juga              perubahan otot yang dominan bekerja. Pada fase ini banyak wanita          mengalami perubahan emosional. Tahap ini juga ibu kadang mulai            menyerah dan memilih untuk melakukan SC, dukungan pada saat                peristiwa ini sangat penting. Fase trasisi biasa terjadi ketika ibu        mulai pembukaan 8.

2.     2. Kala 2
Kala 2 merupakan periode persalinan dimulai dari pembukaan lengkap   sampai seluruh tubuh bayi keluar dari vagina. Selama proses ini ibu akan   mengalami perasaan yang semakin kuat  untuk mendorong bayi dan kepala   bayi akan terus turun melewati rongga panggul sampai bayi lahir sempurna.
Selama 9 bulan bayi berada di dalam rahim ibu dalam keadaan gelap,   untuk itu berusahalah tetap menjaga mata bayi dengan meredupkan lampu.   Hal ini dilakukan untuk memberi waktu kepada mata bayi untuk beradaptasi   dari tempat gelap (dlm rahim) ke tempat baru.
Letakkan bayi Anda di atas perut agar bayi tetap merasakan   kehadiran penuh cinta dan tundalah prosedur yang tidak perlu diperlukan.

     3. Kala 3
Kala 3 biasa disebut juga dengan tahap pegeluaran plasenta.  Rasa     emosial saat Anda melakukan skin to skin kontak terhadap bayi merangsang   hipotalamus untuk tetap melepaskan hormone oksitosin. Hormon ini tetap   berperan untuk menjaga uterus tetap berkontraksi. Kontraksi yang ada   akan membuat plasenta lepas dari dinding rahim. 
Tali pusat dan plasenta akan terus berdenyut dan membawa oksigen ke   bayi sampai saat bayi belajar untuk menarik napas pertama.
 Tali pusat bisa di potong setelah berhenti berdenyut utk mendapatkan   transpor HB, oksigen dan darah secara menyeluruh.

4.      Kala 4
      Periode setelah plasenta lahir sampai 2 jam. Pada saat ini uterus
tetap berkontraksi untuk mejaga agar pembuluh darah yang terbuka
berkontraksi dan mencegah terjadinya perdarahan.
      Pada fase ini sangat penting untuk melakukan bonding kepada bayi
melalui skin to skin kontak. Banyak penelitian mengatakan bahwa skin to
skin kontak sangat berpengaruh pada kedekatan ibu dan bayi, selain itu
juga berpengaruh pada produksi asi.

B.     

Induksi Persalinan

December 18, 2017 0 Comments
Induksi persalinan merupakan langkah untuk menstimulus kontraksi dari “tidak ada “ kontraksi menjadi “ada kontraksi, sedangkan akselerasi adalah upaya untuk memperbaiki kontraksi persalinan menjadi kontraksi yang lebih adekuat. Saat persalinan diperlukan kontraksi yang adekuat (kontraksi yang kuat) supaya persalinan berjalan dengan baik dan untuk mendorong agar bayi lahir.

Beberapa alasan untuk dilakukan induksi persalinan:
1. hasil dari nst ( non stress test) atau ctg ( cardio topographi) mendapatkan hasil kurang reaktif dan menjadi indikasi bahwa bayi tidak dalam kondisi baik
2. lebih dari <42 minggu
3. plasenta mulai mengalami pengkapuran ( klasifikasi plasenta), sehingga fungsi plasenta mengalami penurunan
4. KPD > 24 jam, dan tidak ada proses pembukaan  
1. 
         Beberapa macam Induksi Medis: 
a.  Induksi misoprostol
Induksi misoprostol (nama obat)yang bertujuan untuk melunakkan mulut rahim, harapannya dengan mulut rahim melunak akan timbul kontraksi. dosis yang diberikan 1/8 tablet. Obat ini bisa diberikan dengan cara diminum atau dimasukkan ke dalam mulut rahim, dan pemberian ulang dilakukan setiap 6 jam dalam 24 jam maksimal pemberian (diberikan 4 kali).
b.  Induksi oksitosin sintetis
Oksitosin sintetis yang ada dipasaran dengan nama dagang pitosin, syntosinon, dan oksitosin. 1 ampul berisi 10 intra unit (IU) oksitosin. Oksitosin sintetis yang diberikan biasanya antara 2,5 IU sampai 5 IU ke dalam flabot infus 500 CC. Tetesan yang diberikan biasanya dimulai dari 8 tetes per menit, naik 4 tetes per  15 menit sampai kontraksi dinilai adekuat.
c.  Induksi folley kateter
Oksitosin dengan folley kateter, kateter yang dimaksud adalah selang untuk membantu berkemih yang biasa dipasang pada ibu yang membutuhkan alat untuk membantu berkemih, tapi tidak disambung ke selang pembuangan pipis. Kateter ini akan dimasukkan ke mulut rahim kemudian akan dimasukkan air steril kira-kira 10-20 cc untuk mengunci supaya tidak keluar. Harapannya adalah kateter yang dipasang akan membantu mulut rahim untuk terbuka dan akan kelaur dari mulut rahim saat pembukaan 3-4 cm. setelah lepas biasanya akan disambung dengan induksi oksitosin sintetis.
d.  Induksi AROM (artificial rupture of membranes)
AROM atau dalam Bahasa Indonesia berarti pemecahan air ketuban. Di dalam air ketuban banyak sekali kandungan oksitosinnya. Harapannya adalah dengan memecah air ketuban diharapkan kontraksi akan bertambah adekuat, sehingga persalinan segera berakhir. Hal ini dilakukan biasanya setelah pembukaan 5 ke atas. 

Saturday, 2 September 2017

Masa Transisi dalam Proses Persalinan

September 02, 2017 0 Comments
Beberapa dari kita mungkin awam dan bertanya-tanya apa itu masa transisi dalam proses persalinan. Masa transisi merupakan waktu dimana ibu bersalin mengalami peningkatan perubahan emosional, biasanya dimulai dari pembukaan 8. Pada saat ini terjadi perubahan pola kontraksi yang tadinya untuk membuka mulut rahim menjadi kontraksi yang lebih kuat dan ekspulsif untuk mendorong bayi keluar.

Beberapa ibu akan melewati fase ini dengan mudah, dan beberapa akan melewatinya dengan merasakan adanya peningkatan perubahan emosional biasanya diluapkan dengan perasaan ingin mengeluarkan suara( teriak, raungan, menangis, desahan), takut, menyerah terhadap proses atau menginginkan diberikan intervensi ( ILA, pidural, atau SC ). Pada kondisi ini, seorang ibu membutuhkan support, dukungan, dan empathy, penuh dengan cinta bukan dukungan penuh dengan judging (penghakiman). Sebagai pendamping (suami, keluarga, doula) pada saat ibu dalam masa ini sebaiknya tinggal di tempat, jangan meninggalkan, bantulah dengan teknik-teknik mengurangi rasa nyeri supaya ibunya merasa aman, nyaman, dan tersupport sehingga fase ini berjalan dengan baik, lancar dan lebih cepat.

Pahamilah sebenarnya proses ini akan berjalan dengan cepat bahkan hanya 30 menit, ketika seorang ibu mendapatkan dukungan penuh cinta. Dan menjadi fase lama ketika ibu tidak bisa mengkoping reaksi yang ditimbulkan dari masa transisi ini.

Pada masa transisi proses recall terhadap trauma, masalah yang belum terselesaikan dan kejadian masa lalu yang tidak menyenangkan dapat terjadi. Trauma seksual juga dapat terjadi pada masa ini. Hal yang dapat dilakukan untuk meminimalisir recall adalah dengan berdamai dan healing terhadap segala trauma dan sesuatu yang membebani pikiran sebelum proses persalinan terjadi.

Sunday, 15 January 2017

Tahap - Tahap Persalinan

January 15, 2017 1 Comments


1.         Persalinan Dibagi menjadi beberapa Tahapan. Di Indonesia, secara teori dibagi menjadi 4 tahapan atau biasa kami menyebutnya kala, sedang di luar negeri kebanyakan membagi menjadi 3 kala saja. 
  


               1. Kala I (satu) 
Kala      merupakan periode dimana uterus (rahim) berkontraksi menipiskan dan membuka serviks (mulut rahim). Dalam Kala Idibagi lagi menjadi beberapa fase, diantaranya : 
  • Fase laten, Fase laten dimulai dari pembukaan 1-3. Biasanya kontraksi masih ringan dan durasinya belum lama. Proses pembukaan 1-3 ini tidak pernah ada yang tau sampai kapan, jadi tidak ada patokan yang pasti berapa lama proses ini.
  •  Fase aktif, Fase aktif dimulai dari pembukaan 4 sampai pembukaan 10. Kontraksinya sudah mulai intens dan dibagian fundus lama-lama akan terasa keras seiring dengan pembukaan bertambah.
  •  Transisi, Di dalam fase aktif, terdapat salah satu periode atau fase yang penting yaitu transisi. Periode ini merupakan periode terpendek, terjadi perubahan jenis kontraksi dari kontraksi untuk membuka serviks menjadi kontraksi ekspulsif (mendorong bayi) dan juga perubahan otot yang dominan bekerja. Pada fase ini banyak wanita mengalami perubahan emosional. Tahap ini juga ibu kadang mulai menyerah dan memilih untuk melakukan SC, dukungan pada saat peristiwa ini sangat penting. Fase trasisi biasa terjadi ketika ibu mulai pembukaan 8.

Saturday, 20 February 2016

Tips Untuk Anda yang Ingin VBAC

February 20, 2016 0 Comments
Jika persalinan Anda sebelumnya sesar dan sekarang ingi bersalin normal. Ya, itu yang dimaksut dengan VBAC atau Vaginal Birth After Cesarean ( Melahirkan normal setelah sesar sebelumnya).
Berikut tips jika Anda ingin merencanakan VBAC
1.  1. Kenali Bekas Sayatan
Beberapa dekade tahun yang lalu, operasi sesar dilakukan dengan sayatan vertikal (sayatan klasik). Kelemahan dari jenis sayatan ini adalah menyayat lebih banyak jaringan dan pembuluh darah. Sedagka saat ini, sayatan operasi sesar adalah lateral atau horizontal. Kentungan dari sayatan lateral adalah perdarahan atau robek di kehamilan selajutnya jauh lebih sedikit dibanding dengan sayatan vertikal, perdarahan cenderung sedikit, luka sayatan lebih cepat ditutup saat operasi, resiko infeksi rahim lebih sedikit, dan resiko komplikasi pencernaan juga lebih sedikit.
Karena luka sayatan vertikal lebih menyayat lebih banyak jaringan dan pembuluh darah, ini akn membuat persalinan normal lebih berisiko untuk dijalani.
Tidak semua sayatan vertikal di luar ( di perut), didiringi oleh sayatan vertikal di rahim.Bisa jadi hanya sayatan luka vertikal di perut, namun sayatan rahimnya berbentuk lateral. Anda bisa memastikanya dengan bertanya pada dokter yang menangani operasi Anda sebelumya atau melihat rekam medis operasi sebelumnya.
Selain bekas sayatan, sangat penting sekali untuk mengetahui jarak aman untuk VBAC, yakni dua tahun dan juga mengetahui ketebalan SBR (segmen bawah rahim), ketebalan yang aman adalah 2 mm. 

2. 2. Makan Tinggi Protein
Protein merupakan zat pembangun. Seorang ibu hamil membutuhkan protei untuk membangun pertumbuhan dan perkembangan tubuhnya dan sang bayi. Protein dibutuhkan oleh tubuh ibu misalnya digunakan untuk membangun pembuluh darah (membutuhkan pembuluh darah yang kuat namun elastis), membangu rahim yang kuat serta kokoh dan membangun plasenta yang sehat dan kuat.
Ketika proses persalinan, otot-otot rahim akan bekerja untuk mendorong bayi keluar seiring dengan kontraksi, untuk itu diperlukan rahim yang kuat dan kokoh.
Di dalam Dr Brewer Pregnancy Diet, menyebutkan bahwa seorang ibu hamil membutuhkan 80-120 gr protein per hari. Sedangkan rata-rata konsumsi protein yang dimakan sekitar 55-60 gr per hari. Masih kurang banyak. Untuk itu perbanyaklah makan protein baik dari protein nabati atau pun hewani.

3.  3. Berlatih nafas perut
Belajar bernafas saat kehamilan sangat disarankan. Nafas akan membantu Anda rileks. Jika tubuh dan pikiran rileks hormone oksitosin dan endorpine akan dilepaskan oleh tubuh, ke dua hormone ini akan membantu Anda menjalani persalinan dan proses melahirkan yang tenang dan nyaman. Nafas perut akan membantu merilekskan pula otot-otot rahim, sehingga saat proses kontraksi nanti rahim tetap akan rileks dan elastis.
Belajarlah nafas perut. Duduklah dengan nyaman, kemudian tariklah nafas dari hidung perlahan dan dalam, saat menarik nafas rasakan perut mengembang, kemudian buanglah nafas dari mulut, rasakan saat menghembuskan nafas, perut mngempis. Saat menghembuskan nafas, upayakan lebih lama hitungannya daripada saat menarik nafas. Lakukan itu setiap hari.
  
4.  4. Bekali diri dengan edukasi
Carilah informasi tentang persalinan terutama yang berhubungan dengan VBAC atau sesar berulang untuk mempertimbangkan apakah VBAC ini aman atau penuh resiko. Jika Anda memiliki informasi yang benar tentang proses persalinan, Anda akan percaya diri untuk menjalani proses perslainan nantinya.
     Jika Anda tidak mendapatkan bekal ilmu dan informasi tentang proses persalinan Anda akan kebingungan saat menghadapi, misalnya saja, mungkin Anda tidak tau bagaimana caranya berdamai dengan nyeri dan hal-hal apa saja yang bisa dilakukan untuk berdamai dengan nyeri persalinan. 

5. 5. Pendukung persalinan
Komunikasikan kepada suami dan keluarga tetang keinginan Anda untuk VBAC. Ketika Anda mendapatkan dukungan dari orang-orang yang dicintai Anda akan melangkah dengan percaya diri dan nyaman, serta energy positif saat proses kehamilan dan persalinan nantinya. Ingatlah bahwa proses persalinan adalah bentuk kerja sama Anda, bayi, suami, keluarga, doula dan tenaga kesehatan yang mendampingi.
     Jika merasa bahwa suami atau keluarga akan panik saat mendampingi Anda nantinya saat proses persalinan, menyewa seorang doula adalah solusi.

6. 6.  Cari tenaga kesehatan yang mendukung
Carilah tenaga kesehatan baik bidan atau dokter yang mendukung persalinan Anda nantinya. Namu jangan lupa pastikan terlebih dahulu bahwa VBAC Anda benar-benar aman.

Monday, 14 December 2015

Apakah Lilitan Tali Pusat Itu Berbahaya?

December 14, 2015 0 Comments
Tiba-tiba saya tertarik untuk membuat tulisan tentang lilitan tali pusat, setelah ada teman saya yang memposting di salah satu media sosial tetang kelegaan bayinya yang tidak terlilit tali pusat. Dari ungkapan kata-kata itu menyiratkan kepada yang membaca khususnya saya jika teman saya sangat khawatir jika bayinya terlilit tali pusat.

Lain halnya dengan cerita ibu yang saya dampigi persalinannya. Ketika usia kehamilan 8 bulan saat USG dokter mengatakan bahwa bayinya terlilit tali pusat satu kali longgar. Dokter mengatakan bahwa tidak apa-apa tali pusat melilit leher bayi, tetap bisa melahirkan normal. Walaupun saat itu dokter sudah megatakan tidak ada masalah dengan terlilit tali pusat, tetapi saja hal itu membuatnya menjadi sangat khawatir.

Dua cerita itu mewakilkan perasaan ibu-ibu hamil yang khawatir tentang lilitan tali pusat. Sepertinya hal ini menjadi “momok” tersendiri bagi mereka. Kalau diingat-ingat jaman dulu sama sekali tidak menghawatirkan adanya lilitan tali pusat. Selalu bangga atau senang karena jika bayinya terlilit tali pusat, dianggap akan “wangun” atau pantas memakai baju apa saja. Ini mitos sebenernya, tapi mitos yang menenangkan menurut saya karena ibu hamil tidak akan jadi stress memikirkan tali pusat yang melilit bayinya.

Mari kita mengenal tali pusat terlebih dahulu. Tali pusat menghubungkan plasenta dengan bayi. Kalau dilihat warnanya putih ke abu-abuan, di dalamnya terdapat whorthon jelly yang melindungi pembuluh darah di dalamnya. Di dalamnya terdapat satu vena (pembuluh darah besar yang berwarna biru, kaya oksigen) dan dua arteri (pembuluh darah kecil, berwarna mera, yang miskin oksigen). 1% akan didapatkan kasus hanya terdapat 1 arteri, dan 15% dari kasus itu berhubungan dengan kelainan congenital.

25% bayi dengan kondisi terlilit tali pusat (Ina May Gaskin. Spiritual Midwifery). Dari sumber studi lain menyebutkan bahwa 10-37% akan mengalami lilitan tali pusat dari semua bayi yang ada entah di usia berapa pun dan kebanyakan diantara mereka adalah laki-laki (Adinma, 1990; Miser, 1992; Rhoades et al, 1999) . Karena laki-laki kebanyak mempunyai tali pusat yang panjang (Rogers et al, 2003). Adanya lilitan tali pusat ini sebenarnya tidak membahayakan bayi, mereka masih mendapatkan oksigen dari tali pusat.t

Tali pusat akan  melilit bayi di daerah leher, kepala, badan atau di bisa di seluruh bagian tubuh bayi. Sebagian besar akan melilit di leher. Tali pusat yang melilit bisa satu kali, dua kali, atau beberapa kali, namun umumnya hanya satu kali.

Persalinan dan Kelahiran 
Proses persalinan dengan lilitan tali pusat adalah aman. Tidak ada indikasi untuk dilakukannya SC dengan kasus ini (RCOG.2009). Saat proses persalinan, bayi, tali pusat dan fudus (bagian paling atas rahim) akan bekerja sama untuk turunnya bayi. Kadang ketika persalinan dinyatakan gagal ( tidak ada progress) atau diakhiri dengan SC, dan saat SC diketahui bahwa bayinya ada lilitan tali pusat, sering kali ini akan menjadi alasan mengapa bayinya tidak turun. Jika diingat,bayi butuh waktu untuk turunnya kepala dan berprogress bersalin. Alangkah lebih bijaknya jika tidak ada alasan untuk mengakhiri persalinannya dengan SC adalah menunggu bayi itu turun dengan sendirinya.
Tali pusat yang longgar tidak akan menyebabkan masalah (Reed et al. 2009). Bayi-bayi tetap akan mendapatkan oksigen seiring dengan darah yang mengalir melalui pmbuluh darah yang ada di tali pusat. Apabila pernah mendengar bayi tercekik saat proses keluarnya kepala bayi, ini dikarenakan bayi biasanya terlilit beberapa kali. Itu bukan berarti bayinya tidak mendapat oksigen sama sekali. Oksigennya masih mengalir di pembuluh darah, namun dalm jumlah sedikit karena terkompresi vagina, tapi bukan tidak ada sama sekali. Kondisi ini menyebabkan bayi akan mengalami shorther hipoksia (kekurangan oksigen dalam jangka waktu pendek),tetapi ini akan segera pulih jika tidak langsung di potong tali pusatnya (Reed et al.2009) saat transformasi nafas dan proses belajar nafas, bayi tetap mendapat aliran oksigen dari tali pusat. 

Bagaimana jika Terlilit?
Bagaimana jika bayi kita terlilit tali pusat? Tidak perlu khawatir dengan kondisi ini, karena sekali lagi ini adalah aman. Coba saja mengkomunikasikan dengan bayi, ajak bayi bicara dengan harapan bayi mau membebaskan lilitannya. Ini pula yang dilakukan ibu yang saya dampingi tadi, dengan mengkomunikasikan ke bayinya dan bayinya berhasil bebas tadi lilitan tali pusat menjelang persalinannya.

Sumber
Gaskin, Ina May. Spiritual Midwifery Revised Edition.Tenness: 1980
Reed, R et al.Nuchal cord : Sharing the Evidence with Parents in British Journal of Midwifery.2009
http://midwifethinking.com/2010/07/29/nuchal-cords/by Rachel Reed




Wednesday, 14 October 2015

Dampingilah dan Berikanlah Dukungan Emosional Penuh pada Ibu Bersalin di Masa Transisi

October 14, 2015 0 Comments


Transisi merupakan masa di mana seorang ibu yang sedang bersalin membutuhkan dukungan penuh. Kapankah masa transisi itu? 

Transisi merupakan bagian di dalam fase aktif. Dikatakan fase aktif mulai dari pembukaan 4 sampai 10, dan masa transisi di mulai rata – rata sekitar pembukaan 8. Apa yang terjadi saat masa transisi sehingga Ibu membutuhkan banyak dukungan emosional?

Pada masa transisi terjadi perubahan pola otot yang bekerja di dalam rahim. Pada saat kala pembukaan, di mulai dari awal ibu merasakan kontraksi, maka otot yang bekerja adalah otot myometrium bagian dalam yang susunan ototnya melingkar horisontal, otot ini bersifat untuk membuka mulut rahim, karena otot ini menebal di bagian bawah dan semakin ke atas serat otot semakin tipis.

Setelah sekitar pembukaan 8, maka otot yang bekerja akan bergantian dengan otot myometrium bagian luar yang susunan ototnya memanjang vertikal. Otot ini bersifat ekspulsif atau mendorong bayi ke  bawah, mendekati vagina. Susunan ototnya menebal di bagian fundus dan semakin ke bawah semakin tipis, sehingga ketika kita meletakkan tangan kita di perut bagian atas (lebih tepatnya fundus), semakin mendekati proses persalinan, kita akan merasakan semakin keras di daerah itu.

Pergantian kerja otot ini, dari otot yang bersifat untuk membuka mulut rahim menjadi otot yang bersifat ekspulsif (mendorong bayi keluar dari vagina), mempengaruhi keadaan emosional ibu. Sebagai contoh, ketika di awal progress persalian, seorang ibu masih berpakaian rapi, setelah beberapa jam si Ibu menjadi cenderung berteriak-teriak tidak terkontrol, kadang ibu mulai menyerah dan memilih untuk dilakukannya operasi cesar, pada tahap yang seperti ini kemungkinan besar ibu berada dalam fase transisi.

Apa yang harus dilakukan sebagai pendamping? Pada saat masa transisi ini, sorang ibu membutuhkan dukungan. Dukungan yang ia dapatkan, akan membantu ibu melalui masa ini dengan nyaman, tenang dan waktu terjadinya masa ini bisa dilalui sebentar. Namun, jika ibu tidak mendapatkan dukungan, ketenangan dan kenyamanan saat masa transisi, ibu bisa mengalami masa transisi yag sedikit lebih lama.

Dukungan itu bisa melalui, sentuhan lembut atau pijatan lembut di daerah tulang belakang hingga ke sacrum, meng-coach nafas (mengingatkan kembali pada ibu untuk mengatur nafas dengan lembut), mengompres daerah sacrum dengan air hangat (bisa mengguakan buli-buli hangat atau kain yang dicelupkan ke air hangat) dan lain sebagainya.

Dengan demikian, ibu yang sedang menjalani persalinan bisa menjalani masa ini dengan rileks, nyaman, aman, dan terlindungi karena apa yang kita lakukan pada saat mendampingi persalianan akan diingat oleh ibu seumur hidup. Jadi, dampingilah seorang ibu dengan penuh rasa cinta dan sayang!